Bibit Kawit Surabaya Community

5 min read 912 words 5 views

Surabaya Community (SC) tidak lahir dari sebuah perencanaan formal di atas meja organisasi, melainkan tumbuh secara organik dari rasa senasib sepenanggungan, kerinduan akan kampung halaman, dan semangat keguyuban khas Arek Suroboyo di tanah perantauan.

Awal Mula dan Latar Belakang Terbentuknya

Bibit kawit atau akar mula berdirinya Surabaya Community bergejolak di Jakarta sekitar tahun 2006. Pada masa itu, situasi di ibu kota diwarnai oleh maraknya aksi sweeping terhadap kelompok Bonek. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam di benak Arry “Bhogenk” Pribawanto, seorang jurnalis sekaligus salah satu pendiri utama komunitas ini.

Didasari rasa prihatin tersebut, Cak Bhogenk mulai berdiskusi dan bertukar gagasan bersama teman masa kecilnya, Cak Cendie (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Alumni SMATRIMURTI Jakarta), serta seorang rekan kantor bernama Cak Koko. Gagasan untuk mengumpulkan dan menyatukan para perantau asal Surabaya di Jakarta rupanya bersambut sangat positif.

Pertemuan-pertemuan awal yang bersifat informal dan rutin mulai digelar di Warung Nyonya, sebuah tempat makan di kawasan Tebet yang kebetulan pemiliknya juga merupakan Arek Surabaya (Cak Hendri Cingkir, alumni Universitas Airlangga). Dari cangkrukan rutin yang dihadiri sekitar 20 hingga 25 orang lintas alumni sekolah menengah di Surabaya—mulai dari SMADA, SMASA, SMALA, SMANIX, Santa Maria, hingga Sma Trimurti—komunitas ini perlahan-lahan mulai mengristal.

Tantangan Pertama dan Pengukuhan Organisasi

Titik balik pengukuhan komunitas ini diuji lewat sebuah tantangan konkret dari Cak Koko. Ia menawarkan kesediaan untuk membiayai sebuah acara besar asalkan komunitas ini mampu mendatangkan dan mengumpulkan minimal 300 orang Arek Suroboyo yang berdomisili di Jakarta.

Tantangan tersebut dijawab dengan kerja keras dan antusiasme tinggi. Acara perdana sukses besar, melampaui target kehadiran yang ditentukan. Melihat potensi dan ikatan persaudaraan yang begitu dahsyat di perantauan, diputuskanlah untuk membawa komunitas ini ke arah yang lebih terstruktur. Beberapa bulan setelahnya, diadakan sebuah ajang pemilihan Ketua Umum baru di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan visi membentuk organisasi yang lebih modern dan mandiri. Dalam perkembangannya, posisi Ketua Umum sempat diamanatkan kepada Cak Piyu (periode 2002–2006) sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Cak Rizal Moedhar, dan kemudian Cak Bhogenk dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Plt.

Slogan, Identitas, dan Ekspansi Nasional

Sebagai wadah pemersatu, Surabaya Community mengusung spirit emosional yang sangat kuat melalui slogan utamanya: “Seduluran Sampek Matek” (Persaudaraan Sampai Mati). Slogan yang mencerminkan loyalitas tanpa batas ini lahir dari pemikiran Cak Ridho, seorang Arek Kampung Tembok, alumni SMADA yang merantau ke Jakarta, setelah lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Identitas visual organisasi juga mengalami evolusi penyesuaian. Pada 1,5 hingga 2 tahun awal berdiri, logo pertama SC dirancang oleh Cak Aries DJ. Seiring berjalannya waktu, logo tersebut bertransformasi menggunakan model tulisan baru hasil karya kolaborasi antara Cak Robbi dan Cak Ipoel To Be, dengan tetap mempertahankan esensi tulisan “Surabaya Community” karya Cak Aries DJ.

Berawal dari lingkungan Jakarta, “virus” kerinduan silaturahmi ini menyebar luas ke berbagai penjuru tanah air berkat mobilitas pekerjaan Cak Bhogenk yang sering keliling Indonesia. Hingga tahun 2016, menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) pertama di Indonesia, Surabaya Community telah berkembang pesat secara nasional dengan memiliki kurang lebih 900 anggota aktif yang tersebar di 17 Chapter, meliputi:

  • Chapter Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.
  • Chapter Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang
  • Chapter Jawa Barat (Bandung)
  • Chapter Jawa Tengah (Semarang dan Purwokerto)
  • Chapter Batam, Bali, Tarakan, Samarinda, Balikpapan
  • Chapter Pahlawan (Surabaya dan wilayah Gerbangkertosusila)

Khusus untuk Chapter Pahlawan, cabang ini dibentuk atas inisiatif dan desakan para anggota perantauan yang telah kembali dan menetap di Surabaya. Karena semangat keguyuban SC telah mendarah daging seperti keluarga sendiri, mereka sepakat mendirikan cabang di tanah kelahiran untuk menyambut dan menjamu anggota SC perantauan lainnya saat sedang pulang kampung.

Terobosan Kegiatan dan Keterlibatan Seniman

Di bawah kepemimpinan para pengurusnya, SC secara konsisten menyeimbangkan antara kegiatan kultural, sosial, dan relasi strategis. Organisasi ini tercatat sukses menyelenggarakan berbagai event ikonik di berbagai lokasi populer Jakarta, mulai dari Down Town Dinner di Kemang, Sinema Café, Pancoran, Mario’s Place, Cikini, Aula Apartemen (Lali Jenenge), Warung Solo, Kedai Halaman, hingga berkali-kali menggelar acara Semanggi Suroboyo (I, II, dan III) di TMII, Planet Hollywood, dan Score Café Citos. Keberadaan organisasi ini bahkan diakui di tingkat negara, di mana setiap upacara 17 Agustus di Istana Merdeka, SC selalu rutin mendapatkan undangan resmi untuk hadir.

Kegiatan rutin SC mencakup berbagai bidang, antara lain:

  1. Seni & Budaya: Mengadakan program “Kajian Kehidupan” sebulan sekali di GOR Senen. SC juga menjadi rumah bagi para seniman asal Surabaya di Jakarta. Setiap kali SC menggelar event, seniman-seniman besar selalu terlibat aktif membantu, di antaranya Alm. Mbah Surip, Cak Kartolo cs, Boomerang, Padi, Musikimia, Power Metal, Exentrix, Zenith Band, hingga mendukung penuh grup Klantink saat berjuang dan memenangi ajang pencarian bakat di televisi swasta nasional.
  2. Sosial & Kemanusiaan: Bakti sosial penanganan banjir di daerah Cipinang-Kalibata, pelaksanaan Donor Darah massal bekerja sama dengan rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, serta pengumpulan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha dari internal anggota untuk dibagikan kepada masyarakat Surabaya yang kurang mampu di Jabodetabek.
  3. Lingkungan & Pendidikan: Program “SC Penghijauan” yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek untuk aksi penanaman pohon, yang diselingi dengan pemberian santunan beasiswa kepada siswa berprestasi dari keluarga prasejahtera.
  4. Silaturahmi: Perayaan rutin Hari Ulang Tahun Kota Surabaya yang digelar langsung di Jakarta sebagai bentuk kepedulian dan ajang temu kangen.

Harapan Masa Depan

Melalui momentum pelaksanaan Munas, bibit kawit Surabaya Community yang awalnya hanya berupa cangkrukan warung kopi di Tebet kini diproyeksikan untuk bertransformasi menjadi organisasi kemasyarakatan yang modern dan mandiri. Harapan besarnya tidak lagi sekadar mempertahankan asas keguyuban dan silaturahmi antar-anggota, melainkan melangkah lebih jauh untuk saling bekerja sama memajukan perekonomian, pendidikan, dan berbagai sektor kehidupan lainnya demi mewujudkan masyarakat Surabaya yang dapat dibanggakan di tingkat nasional hingga dunia internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *